PBNU Desak Perdamaian di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Sabtu, 7 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | RatuDunianews.com – Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai berpotensi menimbulkan dampak luas bagi dunia, termasuk Indonesia. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, menegaskan pentingnya upaya diplomasi untuk mendorong terciptanya perdamaian.

“Kita melakukan upaya-upaya diplomatik untuk bertemu dengan berbagai pihak yang bisa mempengaruhi proses menuju jalan keluar masalah perang ini,” kata Yahya, yang akrab disapa Gus Yahya, di Pondok Pesantren Al Ittihad, Jumat (6/3/2026).

Menurut dia, konflik tersebut tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat, tetapi juga berpotensi memicu krisis global. Karena itu, Nahdlatul Ulama berupaya membuka jalur komunikasi dengan berbagai pihak guna mencari jalan keluar dari konflik yang berpotensi berkepanjangan.

Gus Yahya mengatakan isu ketegangan Timur Tengah juga dibahas dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis malam (5/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyampaikan perkembangan geopolitik terbaru, termasuk serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

“Saya ikut undangan bersama Presiden Prabowo Subianto, dan salah satunya adalah bicara tentang Dewan Keamanan yang dibentuk dan Indonesia menjadi anggotanya, bersama-sama dengan Amerika dan negara-negara Arab lainnya,” ujar Gus Yahya.

Menurut dia, Presiden menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendorong terciptanya perdamaian di kawasan tersebut.

“Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya akan melakukan apa pun, menempuh peluang apa pun yang ada untuk mengupayakan perdamaian, khususnya perdamaian Israel-Palestina dan perdamaian di kawasan Timur Tengah,” kata Yahya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang terus meluas dapat berdampak langsung terhadap ekonomi global. Salah satunya terkait potensi gangguan pasokan energi jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terdampak perang.

“Kenapa tujuannya harus perdamaian? Karena kalau kita biarkan ini konflik terus-menerus, apalagi berkembang menjadi konflik yang lebih besar, maka di seluruh dunia ini tidak ada yang selamat,” ujarnya.

Menurut Gus Yahya, sekitar 20 persen pasokan minyak Indonesia bergantung pada jalur tersebut sehingga gangguan di Selat Hormuz dapat memicu dampak ekonomi yang luas.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama ingin mengambil peran yang lebih strategis dalam isu global, tidak sekadar menyampaikan protes atau bantuan kemanusiaan.

“Kita tidak hanya protes, marah, bahkan mengirim sumbangan kepada rakyat Palestina, tapi PBNU membangun strategi untuk ikut berperan mencari jalan keluar dari masalah Palestina,” kata dia.

Gus Yahya menegaskan bahwa perdamaian merupakan kepentingan bersama seluruh masyarakat dunia.

“Maka perdamaian itu dalam hal ini adalah kepentingan mutlak dari semua pihak. Maka kita harus memperjuangkan perdamaian itu,” ujarnya.

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 16:52

PBNU Desak Perdamaian di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Berita Terbaru