CILACAP ,RDN – Masjid Agung Darussalam Cilacap menjadi salah satu ikon kebanggaan umat Islam di Kabupaten Cilacap yang berdiri megah di pusat kota. Masjid yang berada di kawasan Alun-alun Cilacap ini menyimpan sejarah panjang perkembangan dakwah Islam di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid tersebut juga dianggap sebagai simbol perjalanan panjang penyebaran Islam yang diyakini berkaitan dengan dakwah para wali dan murid Wali Songo di tanah Jawa.
Takmir sekaligus Imam Masjid Agung Darussalam Cilacap, KH Muslihun Ashari, mengatakan sejarah pasti berdirinya masjid tersebut sulit ditentukan. Hal ini disebabkan berbagai renovasi yang terjadi selama puluhan tahun sehingga banyak literasi dan arsip lama yang hilang.
“Secara pasti tanggal dan tahun berdirinya Masjid Agung Darussalam memang tidak bisa kami jelaskan karena sudah mengalami beberapa kali renovasi dan banyak data sejarah yang hilang,” ujar KH Muslihun Ashari, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, renovasi besar terakhir masjid tersebut dilakukan pada tahun 1998 dan selesai pada tahun 2000. Proses renovasi itu turut menyebabkan sebagian catatan sejarah awal masjid tidak lagi tersimpan.
“Setelah renovasi terakhir itu banyak literasi lama yang mulai kabur karena para pendahulu sudah tidak ada dan arsipnya juga sebagian besar hilang,” jelasnya.
Menurut KH Muslihun, satu-satunya petunjuk mengenai usia masjid saat ini berasal dari tulisan ukiran yang terdapat pada beduk tua yang masih disimpan di masjid tersebut.
“Prasasti yang ada di beduk itu menjadi salah satu petunjuk yang bisa kami jadikan acuan untuk mengetahui sudah berapa lama masjid ini berdiri,” katanya.
Ia menuturkan, hilangnya sejumlah arsip sejarah juga berkaitan dengan perpindahan kantor Kementerian Agama Republik Indonesia yang dahulu berada dalam satu kawasan dengan masjid tersebut.
“Dulu area masjid ini satu kawasan dengan kantor Departemen Agama, sehingga saat kantor itu pindah banyak arsip yang ikut berpindah bahkan ada yang hilang,” ungkapnya.
Meski demikian, dari berbagai cerita para sesepuh Cilacap, KH Muslihun menyimpulkan bahwa berdirinya Masjid Agung Darussalam tidak lepas dari proses penyebaran Islam yang dilakukan murid-murid Wali Songo, khususnya dari jalur dakwah Sunan Kalijaga.
“Banyak cerita dari para orang tua dulu bahwa masjid ini berkaitan dengan penyebaran Islam oleh murid para wali, terutama yang memiliki garis dakwah dari Sunan Kalijaga,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan tata letak masjid yang berada di dekat alun-alun dan pusat pemerintahan memiliki filosofi yang sejalan dengan tradisi tata kota Islam di Jawa.
“Biasanya di kota-kota Jawa itu ada alun-alun di depan, masjid di satu sisi dan penjara di sisi lain, yang menggambarkan bahwa manusia selalu diberi pilihan antara jalan kebaikan atau keburukan,” jelasnya.
Keunikan Masjid Agung Darussalam Cilacap juga terlihat dari struktur bangunannya yang masih mempertahankan arsitektur tradisional Jawa dengan model atap joglo.(Vio Sari)
