
Ratudunianews | Semarang ,28 Mei 2026 – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia sering sibuk memberi makan jasad namun lupa menghidupkan ruhnya. Padahal hati yang kosong dari dzikir akan mudah gelisah, rapuh, dan kehilangan arah. Keimanan serta dzikir kepada Allah ﷻ adalah santapan ruh yang menghadirkan ketenangan, kekuatan, dan cahaya dalam kehidupan. Dengan mengingat Allah, hati menjadi hidup, langkah terasa ringan, dan jiwa memperoleh kedamaian sejati.
Manusia diciptakan bukan hanya terdiri dari tubuh yang memerlukan makan, minum, dan istirahat, tetapi juga memiliki ruh yang membutuhkan santapan agar tetap hidup. Bila jasad lapar lalu diberi makanan, maka ruh yang lapar harus diberi keimanan, ibadah, dan dzikir kepada Allah ﷻ. Banyak manusia terlihat sehat secara fisik, namun sesungguhnya hatinya lemah, pikirannya gelisah, dan jiwanya kosong karena jauh dari Allah. Mereka mencari ketenangan di berbagai tempat, mengejar dunia tanpa henti, tetapi tetap merasa hampa. Hal itu terjadi sebab ruhnya tidak mendapatkan makanan yang sebenarnya.
Allah ﷻ telah menjelaskan bahwa ketenangan hati hanya dapat diraih dengan mengingat-Nya. Firman Allah Ta’ala:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menjadi jawaban atas kegelisahan manusia sepanjang zaman. Banyak orang mengira ketenangan lahir dari harta, jabatan, pujian manusia, atau kemewahan dunia. Padahal semua itu tidak pernah mampu memuaskan hati sepenuhnya. Ketenteraman sejati hanya datang ketika hati dekat dengan Allah. Dzikir menghadirkan rasa diawasi, dicintai, dan ditolong oleh Rabb semesta alam. Karena itulah orang yang rajin berdzikir biasanya lebih kuat menghadapi ujian hidup.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya, seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari: 6407)
Hadis ini menunjukkan bahwa dzikir adalah tanda kehidupan hati. Hati yang hidup akan mudah menerima nasihat, ringan melakukan kebaikan, serta takut berbuat dosa. Sebaliknya hati yang mati akan keras, sulit tersentuh ayat Al-Qur’an, bahkan merasa berat untuk beribadah. Betapa banyak manusia yang secara fisik masih berjalan, namun ruhnya telah mati karena jauh dari dzikir dan keimanan.
Dzikir bukan hanya ucapan di lisan, tetapi juga kesadaran hati kepada Allah ﷻ. Ketika seorang hamba mengucapkan “Subhanallah”, ia sedang mengagungkan kesempurnaan Allah. Saat ia mengucapkan “Alhamdulillah”, ia sedang mensyukuri nikmat-Nya. Ketika lisannya mengucapkan “Astaghfirullah”, ia sedang membersihkan hati dari noda dosa. Semua dzikir itu menjadi cahaya yang menerangi kehidupan seorang mukmin.
Allah ﷻ juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Perintah ini menunjukkan bahwa dzikir bukan amalan musiman. Ia harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat bangun tidur, ketika berjalan, setelah shalat, di perjalanan, bahkan ketika hati sedang sedih sekalipun, seorang mukmin diperintahkan untuk tetap mengingat Allah. Sebab semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kuat pula jiwanya menghadapi kehidupan.
Kadang manusia terlalu sibuk memoles penampilan lahiriah namun lupa membersihkan batin. Padahal kerusakan hati jauh lebih berbahaya daripada sakitnya tubuh. Hati yang dipenuhi iri, dengki, sombong, dan cinta dunia akan terasa sempit. Sebaliknya hati yang dipenuhi dzikir akan terasa lapang dan damai. Itulah sebabnya para ulama mengatakan bahwa dzikir adalah taman surga di dunia. Orang yang menikmati dzikir akan merasakan kebahagiaan meski hidup sederhana.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan terbaik, paling suci di sisi Raja kalian, paling tinggi derajatnya bagi kalian, dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Betapa agung kedudukan dzikir hingga disebut lebih utama daripada banyak amalan duniawi. Sebab dzikir menjaga hubungan antara hamba dengan Rabb-nya. Orang yang lisannya basah dengan dzikir akan lebih mudah menjaga akhlak, menahan amarah, serta menjauhi maksiat. Ketika hati dipenuhi nama Allah, maka godaan dunia menjadi kecil di matanya.
Namun realitas hari ini menunjukkan banyak manusia justru lebih akrab dengan gawai daripada Al-Qur’an, lebih sering mengingat urusan dunia daripada mengingat Allah. Waktu berjam-jam habis untuk perkara yang sia-sia, tetapi sangat sedikit digunakan untuk berdzikir. Akibatnya hati mudah gelisah, emosi tidak terkendali, dan hidup terasa berat. Padahal Allah telah memberikan obat terbaik bagi hati manusia, yaitu dzikir dan keimanan.
Keimanan yang kuat akan membuat seseorang tetap tegar meski diuji kesulitan. Ia sadar bahwa semua yang terjadi berada dalam kehendak Allah. Ketika kehilangan sesuatu, ia bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Semua itu lahir karena hatinya hidup bersama Allah. Sebaliknya orang yang jauh dari dzikir akan mudah putus asa saat tertimpa masalah, sebab ia menghadapi semuanya dengan kekuatan dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, marilah kita mulai membiasakan dzikir dalam kehidupan sehari-hari. Jangan biarkan hati terlalu lama kosong dari mengingat Allah. Bacalah tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar dengan penuh penghayatan. Dekatkan diri kepada Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah cahaya bagi ruh manusia. Jadikan shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi tempat beristirahatnya hati.
Sesungguhnya kehidupan dunia sangat singkat. Tidak ada yang akan menemani manusia di alam kubur selain iman dan amal saleh. Harta akan ditinggalkan, jabatan akan hilang, dan manusia yang dicintai pun suatu saat akan berpisah. Namun dzikir kepada Allah akan menjadi cahaya yang terus menyertai seorang hamba hingga akhirat kelak. Maka beruntunglah orang yang menjaga lisannya dari kelalaian dan menghidupkan hatinya dengan mengingat Allah ﷻ.
Semoga Allah menjadikan hati kita hidup dengan keimanan, lisan kita senantiasa basah dengan dzikir, serta langkah kita selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Aamiin, ujarnya.
Reporter : Hadi Purwono
Editor : Vio Sari
